Sabtu, 04 Juli 2009

Sistem Informasi Manajemen Sebagai Pengambil Keputusan

Tugas Makalah
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
SEBAGAI PENGAMBIL KEPUTUSAN

Dosen pembimbing
M. Asnan Fanani, SE., MM


Oleh Kelompok 11:
Abdul Rouf (05610055)
Novita Kurniasari (06610040)
M. Adib Mawardi (06610041)
An’im Fatahna (06610031)


JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MALANG
2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Sistem Informasi Manajemen Sebagai Pengambil Keputusan” ini.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada kita Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil memimpin, membimbing dan menuntun umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang yakni agama Islam.
Suatu kebanggaan tersendiri bagi kami karena dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang tidak lepas dari peran serta bsrbagai pihak, khususnya Bapak M. Asnan Fanani, SE., MM yang telah membimbing kami sehingga dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Dan kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari pembaca untuk menyempurnakan penyusunan makalah kami berikutnya.
Akhirnya semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita semua.


Malang, 10 Juni 2009


Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kerangka Dasar Pengambilan Keputusan
2.2 Pengertian Pengambilan Keputusan
2.3 Tipe Pengambilan Keputusan
2.4 Proses Pengambilan Keputusan
2.5 Kriteria Pengambilan Keputusan
2.6 Skala pengukuran Pengambilan Keputusan
2.7 Metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan
2.8 Konsep Riset Operasi
2.9 Model Riset Operasi
2.10 Aplikasi Riset Operasi
BAB III PENUTUP
Studi Kasus
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam manajemen, pengambilan keputusan memegang peranan yang sangat penting karena keputusan yang diambil oleh manajer merupakan hasil pemikiran akhir yang harus dilaksanakan oleh bawahannya atau mereka yang bersangkutan dengan organisasi yang ia pimpin. Penting karena menyangkut semua aspek manajemen. Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari kerugian citra sampai kepada kerugian uang. Ada kalanya keputusan diambil oleh manajer sendiri, tetapi tidak jarang juga bersama staf, tergantung dari besar kecilya masalah dan gaya kepemimpinan yang dianut oleh si manajer. Yang jelas, pengambilan keputusan tidak bisa dilakukan secara sembarang. Pengambilan keputusan adalah suatu proses pemikiran dalam rangka pemecahan suatu masalah untuk memperoleh hasil akhir untuk dilaksanakan. Masalah berbeda dengan persoalan, meskipun keduanya merupakan pertanyaan untuk dijawab. Jika untuk pertanyaan sudah ada jawabannya, bagi masalah belum.
Ada masalah yang mudah saja dipecahkan, ada yang sukar, ada juga yang sangat sulit, tergantung besarnya masalah dan luasnya sangkut paut dengan berbagai faktor. Atas dasar itulah, maka keputusan yang dihasilkan ada yang tidak mengandung resiko apa-apa, ada yang resikonya kecil saja, ada pula yang resikonya besar, bahkan sangat besar. Cara pengambilan keputusan akan mempengaruhi perancangan sistem informasi berdasarkan komputer yang dimaksudkan untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kerangka Dasar Pengambilan Keputusan?
2. Apa Pengertian Pengambilan Keputusan?
3. Apa saja Tipe Pengambilan Keputusan?
4. Bagaimana Proses Pengambilan Keputusan?
5. Apa Kriteria Pengambilan Keputusan?
6. Bagaimana Skala pengukuran Pengambilan Keputusan?
7. Bagaiman Metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan?
8. Bagaimana konsep riset operasi
9. Bagaimana model riset operasi
10. Bagaimana aplikasi riset operasi


C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui Kerangka Dasar Pengambilan Keputusan
2. Untuk mengetahui Pengertian Pengambilan Keputusan
3. Agar dapat mengetahui Tipe Pengambilan Keputusan
4. Agar dapat mengetahui Proses Pengambilan Keputusan
5. Untuk mengetahui Kriteria Pengambilan Keputusan
6. Agar dapat mengetahui Skala pengukuran Pengambilan Keputusan
7. Agar dapat mengetahui Metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan
8. Agar dapat mengetahui konsep riset operasi
9. Agar dapat mengetahui model riset operasi
10. Agar dapat mengetahui aplikasi riset operasi



















BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kerangka Dasar Pengambilan Keputusan
penjelaskan pengambilan keputusan yang penting dan kemudian juga mengenai hubungan antara teori tersebut untuk merancang sistem informasi. Model yang bermanfaat yang terkenal sebagai kerangka dasar proses pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh Herbert A. Simon akan digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan. Model ini terdiri atas tiga tahap[1]:
Tiga tahap mengambil keputusan
Tahap proses dalam pengambilan keputusan
Penjelasan
Pemahaman
Menyelidiki lingkungan kondisi yang memerlukan keputusan. Data mentah yang diperoleh diolah dan diperiksa untuk dijadikan petunjuk yang dapat menentukan masalahnya
Perancangan
Menemukan, mengembangkan, dan menganalisis arah tindakan yang mungkin dapat digunakan. Hal ini mengandung proses untuk memahami masalah untuk menghasilkan cara pemecahan dan menguji apakah cara pemecahan tersebut dapat dilaksanakan
Pemilihan
Memilih arah tindakan tertentu dari semua arah tindakan yang ada. Pilihan ditentukan dan dilaksanakan

Dengan demikian, proses pengambilan keputusan dapat dipandang sebagai arus dari pemahaman sampai perancangan dan pemilihan tetapi pada setiap tahap hasilnya mungkin dikembalikan lagi ke tahap sebelumnya untuk dimulai lagi. Misalnya, pemilihan mungkin menolak semua alternatif dan mengembalikannya ke tahap perancangan untuk menghasilkan pemecahan tambahan. Model Simon ada hubungannya dengan SIM. Hubungan ini diikhtisarkan untuk ketiga tahap model Simon, yaitu[2]:


Tiga tahap pengambilan keputusan dalam hubungannya dengan SIM
Tahap proses pengambilan keputusan
Hubungan dengan SIM
Pemahaman
Proses penyelidikan mengandung pemeriksaan data baik dengan cara yang telah ditentukan maupun dengan cara khusus. SIM harus memberikan kedua cara tersebut. Sistem informasi harus meneliti semua data dan mengajukan permintaan untuk diuji mengenai situasi yang jelas menuntut perhatian. Baik SIM maupun organisasi harus menyediakan saluran komunikasi untuk masalah yang diketahui dengan jelas agar disampaikan kepada organisasi tingkat atas sehingga masalah tersebut dapat ditangani
Perancangan
SIM harus mengandung model keputusan untuk mengolah data dan memprakarsai pemecahan alternatif. Model harus membantu menganalisis alternatif
Pemilihan
SIM menjadi paling efektif apabila hasil perancangan disajikan dalam suatu bentuk yang mendorong pegambilan keputusan. Apabila telah dilakukan pemilihan, peranan SIM berubah menjadi pengumpulan data untuk umpan balik dan penilaian kemudian.

Ada beberapa cara yang berlainan untuk menggolongkan pengambilan keputusan. Kesadaran akan kerangka dan paham ini akan bermanfaat dalam pembicaraan selanjutnya. Suatu sistem pengambilan keputusan, artinya model sistem yang digunakan untuk mengambil keputusan, dapat bersifat tertutup atau terbuka. Sistem pengambilan keputusan tertutup menganggap bahwa keputusan dipisahkan dari masukan yang tidak diketahui dari lingkungannya. Dalam sistem ini, pengambil keputusan dianggap:
a. Mengetahui semua alternatif dan akibat atau hasil masing-masing alternatif
b. Mempunyai suatu metode (aturan, hubungan, dan sebagainya) yang memungkinkan ia membuat urutan alternatif yang lebih disukai
c. Memilih alternatif yang memaksimumkan sesuatu seperti keuntungan, volume penjualan, atau kegunaan
Paham pengambilan keputusan yang tertutup jelas menganggap bahwa orang yang rasional secara logis menguji semua alternatif, membuat urutan berdasarkan hasilnya yang lebih disukai, dan memilih alternatif yang mendatangkan hasil terbaik. Model kuantitatif pengambilan keputusan biasanya merupakan model sistem pengambilan keputusan yang tertutup.
Sistem pengambilan keputusan yang terbuka memandang keputusan sebagai terjadi dalam suatu lingkungan yang kompleks dan sebagian tidak diketahui. Keputusan dipengaruhi oleh lingkungan dan proses pengambilan keputusan selanjutnya mempengaruhi lingkungan. Pengambil keputusan dianggap tidak harus logis dan sepenuhnya rasional, tetapi lebih banyak menunjukkan rasionalitas hanya dalam batas yang ditentukan oleh latar belakang, penglihatan alternatif, kemampuan untuk menangani model keputusan, dan sebagainya. Mengingat tujuan model tertutup telah dirumuskan dengan baik, tujuan model terbuka sama dengan tingkat keinginan sebab model terbuka dapat berubah apabila pengambil keputusan menerima bukti keberhasilan atau kegagalan. Dibandingkan dengan ketiga anggapan model tertutup, model keputusan terbuka menganggap bahwa pengambil keputusan:
a. Tidak mengetahui semua alternatif dan semua hasil
b. Melakukan penyelidikan secara terbatas untuk menemukan beberapa alternatif yang memuaskan
c. Mengambil keputusan yang memuaskan tingkat keinginnanya
Model terbuka adalah dinamis atas urutan pilihan karena tingkat keinginan berubah menanggapi perbedaan antara hasil dan tingkat keinginan.

2.2 Pengertian Pengambilan Keputusan
Pada hakekatnya kegiatan pembuatan keputusan di latar belakangi oleh adanya suatu masalah atau problem dalam usaha mencapai suatu tujuan tertentu. Pembuatan keputusan ini bertujuan mengatasi atau memecahkan masalah yang bersangkutan sehingga usaha pencapaian tujuan yang dimaksud dapat dilaksanakan secara baik dan efektif. Selain itu, pembuatan keputusan dipandang sebagai usaha untuk mencari jalan keluar dari suatu masalah yang terjadi. Di lain pihak, masalah atau problem yang dimaksud dapat dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu masalah korektif, masalah progresif, dan masalah kreatif.
Masalah korektif adalah masalah yang timbul karena adanya penyimpangan dari apa yang direncanakan. Masalah ini banyak terjadi dalam kegiatan pelaksanaan suatu rencana sehingga pembuatan keputusan dilakukan untuk memperbaiki atau meluruskan penyimpangan yang terjadi atau memperbaiki rencana bila rencana tersebut keliru. Masalah progresif adalah suatu masalah yang terjadi akibat adanya keinginan untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu prestasi atau hasil masa lalu. Misalnya, suatu perusahaan ingin memperbesar atau memperluas market sharenya atau suatu pabrik mobil ingin memproduksi suatu kendaraan yang lebih irit bahan bakarnya. Masalah yang dihadapi dalam kondisi ini adalah masalah progresif. Sedangkan masalah kreatif adalah suatu masalah yang muncul karena adanya keinginan untuk menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Hal ini dapat dicontohkan pada sebuah pabrik mobil yang ingin menciptakan kendaraan dengan energi tenaga matahari.
Efisiensi dan efektivitas suatu perusahaan biasanya dapat diduga dari jenis atau macam masalah yang sering dihadapi. Sebuah perusahaan yang terlalu sering menghadapi masalah korektif, menggambarkan cara kerja yang kurang efisien dan kurang efektif. Di lain pihak, perusahaan yang lebih sering progresif dan kreatif menggambarkan perusahaan yang relatif sukses dan inovatif.

2.3 Tipe Pengambilan Keputusan
Pembuatan keputusan dapat didefinisikan sebagai penentuan serangkaian kegiatan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pembuatan keputusan ini tidak hanya dilakukan oleh para manajer puncak, tetapi juga para manajer menengah dan lini pertama. Setiap jabatan seorang dalam organisasi menyangkut berbagai derajat pembuatan keputusan, bahkan untuk pekerjaan rutin sekalipun dan dalam macam organisasi apapun. Manajer akan membuat tipe-tipe keputusan yang berbeda sesuai perbedaan kondisi dan situasi yang ada. Salah satu metode pengklasifikasian keputusan yang banyak digunakan adalah menentukan apakah keputusan itu diprogram atau tidak. Keputusan juga dapat dibedakan juga dapat menjadi keputusan yang dibuat di bawah kondisi kepastian, resiko dan ketidakpastian. Keputusan yang diprogram adalah keputusan yang dibuat menurut kebiasaan, aturan atau prosedur. Keputusan ini rutin dan berulang-ulang. Setiap organisasi mempunyai kebijaksanaan tertulis atau tidak tertulis yang memudahkan pembuatan keputusan dalam situasi yang berulanng dengan membatasi dan menghilangkan alternatif.
Masalah rutin tidak selalu sederhana, keputusan yang diprogram dapat juga digunakan dalam penanganan masalah yang kompleks dan rumit. Bila suatu masalah berulang dan unsur komponen dapat dirumuskan, diperkirakan dan dianalisis, maka hal itu dapat menjadi “calon” pembuatan keputusan yang diprogram. Keptusan yang tidak diprogram di lain pihak adalah keputusan yang berkenaan dengan masalah khusus, khas, atau tidak biasa. Herbert A Simon mengemukakan teknik tradisional dan modern dalam pembuatan keputusan yang diprogram dan tidak diprogram.







Teknik-teknik pembuatan keputusan tradisional dan modern[3]
Tipe-tipe keputusan
Teknik-teknik pembuatan keputusan
Tradisional
modern
Diprogram:
Keputusan rutin dan berulang-ulang.
Organisasi mengembangkan proses khusus bagi penanganannya.
1. Kebiasaan
2. Kegiatan rutin: prosedur pengoperasian standar
3. Struktur organisasi
Pengharapan umum sistem tujuan saluran informasi yang disusun dengan baik
1. Teknik-2Riset operasi: analisa matematik model-model simulasi komputer
2. Pengolahan data elektronik
Tidak diprogram:
Keputusan sekali pakai, disusun tidak sehat dan kebijaksanaan. Ditangani dengan proses pemecahan masalah umum.
1. Kebijaksanaan intuisi dan kreativitas
2. Coba-coba
3. Seleksi dan latihan para pelaksana
Teknik pemecahan masalah yang diterapkan pada:
a. Latihan membuat keputusan
b. Penyusunan program komputer “Heuristic”

2.4 Proses Pengambilan Keputusan
Banyak manajer yang harus membuat suatu keputusan dengan metode pembuatan keputusan informal untuk memberi pedoman bagi manajer. Tetapi tidak ada pendekatan pembuatan keputusan yang dapat menjamin bahwa manajer akan selalu membuat keputusan yang benar. Akan tetapi, bagaimana pun para manajer yang menggunakan suatu pendekatan rasional, intelektual, dan sistematis akan lebih berhasil dibandingkan para manajer yang menggunakan penedekatan informal. Proses dasar pembuatan keputusan rasional hampir sama dengan proses perencanaan strategis formal. Ini mencakup identifikasi dan diagnosa masalah, pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembangan alternatif, penilaian berbagai alternatif penyelesaian, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan, dan evaluasi terhadap hasil seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini:




Tahap – tahap Proses Pengambilan Keputusan[4]
Tahap 1 Tahap 2 Tahap 3 Tahap 4 Tahap 5 Tahap 6 Tahap 7









Identifikasi & diagnosa masalah
Pengumpulan & analisis data
Pengembangan alternatif
Evaluasi alternatif
Pemilihan alternatif terbaik
Implementasi keputusan
Evaluasi hasil
Umpan balik



Tahap 1: Pemahaman dan Perumusan Masalah. Para manajer sering menghadapi kenyataan bahwa masalah yang sebenarnya sulit dikemukakan atau bahkan sering hanya mengidentifikasi gejala masalah, bukan penyebab yang mendasar. Bila manajer akan memperbaiki situasi, manajer pertama-tama harus menemukan apa masalah sebenarnya, kemudian menentukan bagian masalah yang mereka harus pecahkan serta bagian mana yang seharusnya dipecahkan.
Tahap 2: Pengumpulan dan analisis data yang relevan. Setelah manajer menemukan dan merumuskan masalah, manajer harus mulai memutuskan langkah-langkah selanjutnya. Manajer pertama kali harus menentukan data-data apa yang akan dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat dan kemudian mendapatkan informasi tersebut.
Tahap 3: Pengembangan alternatif-alternatif. Kecenderungan untuk menerima alternatif keputusan pertama yang “feasibel” sering menghindarkan manajer dari pencapaian penyelesaian yang terbaik untuk masalah manajer. Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan manajer menolak kecenderungan untuk membuat keputusan terlalu cepat dan membuat lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif.
Tahap 4: Evaluasi alternatif-alternatif. Setelah manajer mengembangkan sekumpulan alternatif, manajer harus mengevaluasinya untuk menilai efektivitas setiap alternatif. Efektivitas dapat diukur dengan dua kriteria: apakah alternatif realistik bila dihubungkan dengan tujuan dan sumber daya organisasi dan seberapa baik alternatif akan membantu pemecahan masalah.
Tahap 5: Pemilihan alternatif terbaik. Tahap kelima pembuatan keputusan merupakan hasil evaluasi berbagai alternatif. Alternatif terpilih akan didasarkan pada jumlah informasi yang tersedia bagi manajer dan ketidaksempurnaan kebijakan manajer. Pilihan alternatif terbaik juga sering merupakan suatu kompromi di antara berbagai faktor yang telah dipertimbangkan.
Tahap 6: Implementasi keputusan. Setelah alternatif terbaik dipilih, para manajer harus membuat rencana untuk mengatasi berbagai persyaratan dan masalah yang mungkin dijumpai dalam penerapan keputusan. Implementasi keputusan menyangkut lebih dari sekedar pemberian perintah.
Tahap 7: Evaluasi hasil-hasil keputusan. Implementasi keputusan harus dimonitor terus-menerus. Manajer harus mengevaluasi apakah implementasi dilakukan dengan lancar dan keputusan memberikan hasil yang diinginkan. Pembuatan keputusan adalah suatu proses yang bersifat kontinu bagi manajer dan merupakan tantangan yang harus selalu dihadapinya.
2.5 Kriteria Pengambilan Keputusan
Kriteria untuk pengambilan keputusan yang mengandung resiko adalah memaksimalkan nilai yang diharapkan. Ada bukti yang memberi kesan pembatasan atas kriteria, misalnya orang yang naik pesawat terbang membeli asuransi penerbangan, tetapi nilai asuransi yang diharapkan jauh di bawah biasanya. Selisih tersebut diperhitungkan melalui metode penjualan yang biasanya tinggi dan keuntungan bagi perusahaan asuransi. Gejala ini menimbulkan kesan bahwa individu lebih suka memilih memaksimalkan kegunaan yang diharapkan dari pada yang diharapkan. Contoh ini memberi kesan bahwa kegunaan jumlah yang besar bagi indevidu mempunyai kegunaan yang lebih besar dari pada jumlah yang kecil.
Suatu pandangan alternatif mengenai kriteria untuk pengambilan keputusan adalah pemuasan. Padangan ini berasal dari model perilaku deskriftif yang mengatakan bahwa mengambil keputusan tidak mengetahui alternatif yang jelas dan harus mengadakan penyelidikan untuk mendapatkannya.
2.6 Skala Pengukuran Pengambilan Keputusan
Pada hakekatnya pembuatan keputusan dipandang sebagai suatu proses dalam usaha mencari jalan keluar dari suatu masalah atau problem. Pengambil keputusan yang lebih berkesan suatu kegiatan pemilihan alternatif dari serangkaian alternatif yang merupakan cara pemecahan suatu masalah. Tolak ukur kuantitatif mengenai manfaat dan biaya bertujuan mempermudah perbandingan antara efektifitas beraneka alternatif cara penggarapan dalam suatu situasi keputusan. Tujuan pengungkapan pengukuran secara kuantitatif sering menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Dan penafsiran ini sering bertentangan dengan maksud pembuatan keputusan. Selain itu, pengambilan keputusan melukiskan suatu proses yang digunakan untuk memilih suatu arah tindakan sebagai pemecahan bagi suatu persoalan.
Dengan demikan, jelas diperlukan suatu skala pengukuran yang akan mempermudah perbandingan antara keefektifitas beraneka alternatif yang dikembangkan sehingga dapat dengan tegas dan tanpa keraguan dipilih salah satu alternatif yang terbaik. Skala pengukuran ini disusun menurut urutan bertambah banyaknya batasan yang diadakannya. Skala pengukuran yang dimaksud dapat dirinci dan dijelaskan[5], sebagai berikut:
a) Skala Nominal
Skala nominal adalah pengukuran dengan tarif yang paling rendah. Di sini suatu obyek digolong-golongkan dengan simbol-simbol atau angka-angka yang bersifat kuatitatif atau kuantitatif. Simbol-simbol atau angka-angka ini dipakai untuk memberi identitas suatu kelompok tertentu. Misalnya plat nomor kendaran bermotor. Karena nomor dan huruf kendaraan tersebut menerangkan tempat kendaraan yang bersangkutan terdaftar. Pengambilan keputusan berdasarkan skala nominal agak sulit dilakukan karena skala ini tidak memperlihatkan suatu jenjang nilai dari sejumlah alternatif keputusan.
b) Skala Ordinal
Skala ordinal adalah suatu skala pengukuran yang sifatnya kualitatif yang menunjukan adanya suatu jenjang urutan preferensi yang dikaitkan pada suatu tujuan. Atau dapat dikatakan bahwa skala ordinal adalah obyek-obyek dalam suatu kategori yang mungkin tidak berbeda dengan obyek lainnya. Kesulitan penilaian dalam skala ordianl ini adalah tidak adanya ukuran nilai yang membedakan setiap tingkat preferensi. Misalnya, lebih menyenagkan dengan jauh lebih menyenangi. Hal ini tentu saja akan menyulitkan proses pembuatan keputusan apabila terdapat lebih dari dua alternatif yang akan dipilih. Untuk mempermudah pengambilan keputusan dalam kasus ini biasanya setiap kemungkinan hasil dari suatu alternatif diberi score / nilai sehubungan dengan jenjang nilai terhadap tujuan yang ingin dicapai.
c) Skala Interval
Skala interval adalah suatu skala yang mempunyai ciri-ciri skala ordinal, yang selisih dari tiap-tiap angka atau jenjang preferensi dalam skala tersebut diketahui besarnya dan kemudian pengukurannya dilakukan lebih teliti. Pengukuran dengan skala interval untuk pembuatan keputusan dilakukan dengan membuat suatu hubungan yang linier di antara komponen-komponen atau variabel-variabel yang diukur.
d) Skala Ratio
Skala ratio adalah suatu skala interval yang mempunyai titik nol yang nyata. Dalam skala ratio, perbandingan dari setiap titik pada unit pengukuran adalah bebas. Pengukuran dengan skala ratio untuk pembuatan keputusan paling mudah dilakukan karena langsung diketahui perbedaan dan perbandingan jenjang nilai dari setiap hasil alternatif.
e) Skala Absolut
Skala absolut merupakan ukuran kuantitatif yang jelas dan nyata, yang dapat dibandingkan secara langsung. Ukuran ini mempunyai titik nol langsung yang jelas. Berdasarkan uraian dan pembahasan dalam skala pengukuran pengambilan keputusan dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang proporsional antara situasi atau kondisi keputusan dengan jenis serta skala pengukuran dari setiap alternatif keputusan yang diambil.
2.7 Metode Kuantitatif dalam Pembuatan Keputusan
Operasi berbagai organisasi telah semakin kompleks dan mahal. Karena itu, menjadi sulit dan penting bagi manajer untuk membuat rencana dan keputusan yang efektif. Manajer tidak hanya dapat menggantungkan pada intuisinya daja dalam perencanaan dan pembuatan keputusan, tetepi manajer memerlukan bantuan berbagai teknik dan peralatan kuantitatif. Berbagai teknik dan peralatan kuantitatif dalam pembuatan keputusan telah dikembangkan lebih dari empat puluh tahun yang lalu, yang dikenal sebagai teknik mangement science dan operations research (riset operasi).
Riset operasi bermaksud menggambarkan, memahami, dan memperkirakan atau meramalkan perilaku berbagai sistem yang komplek dari kehidupan manusia dan peralatan. Tujuan riset operasi adalah menyediakan informasi yang akurat sebagai dasar pembuatan keputusan. Penggunaan teknik resit operasi dalam industri, pemerintahan, dan sektor sosial terus berkembang sejalan dengan perkembangan tekninya yang beberapa di antaranya menjadi semakin komplek. Karena itu, pemilihan dan penerapan salah satu teknik bukanlah pekerjaan yang mudah. Manajer harus cukup mengetahui atau menguasai riset operasi untuk dapat memilih pendekatan yang tepat bagi organisasinya.
2.8 Konsep Riset Operasi
Ada tujuh ciri utama riset operasi dalam proses pengambilan keputusan sebagai berikut:[6]
Terpusat pada pembuatan keputusan
Penggunaan metode ilmiah
Penggunaan model matematik
Efektifitas ekonomis
Bergantung pada kompoter
Pendekatan tim
Orientasi sistem
Sedangkan pendekatan riset operasi untuk memecahkan masalah sebagai alternatif di dalam proses pengambilan keputusan mempunyai lima tahapan, yaitu:
1. diagnosa masalah
2. perumusan masalah
3. pembuatan model
4. analisis model
5. implementasi penemuan

2.9 Model Riset Operasi
Ada sejumlah cara pengelompokan model yang digunakan riset operasi. Pembedaan yang biasa dibuat adalah antara model normatif dan dekriktif. Model normatif menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan. Ini digunakan untuk menyajiakan kepada para manajer penyelesaian terbaik. Model deskriptif menggambarkan segala sesuatu bagaimana adanya. Ini memberikan kepada manajer informasi yang mereka butuhkan untuk membuat keputusan dan tidak menawarkan penyelasaian masalah, tetepi saran apa yang akan terjadi bila variabel masalah diubah. Beberapa model riset operasi[7], sebagai berikut:
Programasi Linear (linear programming)
Teori antrian
Analisis network
Teori permainan
Model rantai Markov
Programasi dinamik
Simulasi (simulation)

2.10 Aplikasi Riset Operasi
Ada delapan jenis masalah praktek manajeral dengan teknik-teknik riset operasi sering diterapkan, yaitu:
a) Masalah persedian. Masalah-masalah persediaan merupakan salah satu jenis masalah yang paling baik dipecahkan dengan teknik-teknik riset operasi karena menyangkut penyeimbangan tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Pertentangan tersebut terjadi antara biaya pemesanan dan biaya penyimpanan produk. Penyelesaian optimal dapat diperoleh melalui penggunaan teknik-teknik riset operasi yang menyeimbangkan kecenderungan kedua biaya tersebut yang saling bertentangan. Program persediaan ini menyeimbangkan kebutuhan untuk memenuhi permintaan langganan dengan kebutuhan untuk menekan biaya-biaya pemesanan dan penyimpanan.
b) Masalah alokasi. Ada dua jenis umum masalah alokasi. Keduanya dapat dipecahkan dengan programasi linear. Jenis pertama, sekumpulan sumber daya tertentu dapat mengkombinasikan dengan cara-cara yang berbeda untuk melaksanakan pekerjaan tertentu. Jenis kedua, terjadi bila tidak cukup tersedia sumber daya untuk melaksanakan semua pekerjaan yang diinginkan manajer.
c) Masalah antrian. Masalah-masalah antrian menyangkut perencanaan berbagai fasilitas untuk memenuhi permintaan akan pelayanan. Masalah antrian biasanya dipusatkan dengan teori antrian, tetapi masalah yang lebih kompleks memerlukan teknik-teknik simultasi.
d) Masalah pengurutan. Masalah pengurutan timbul bila manajer harus memutuskan dalam urutan bagaimana bagian-bagian suatu pekerjaan akan dilaksanakan. Penyelasaian masalah ini biasanya dicari malalui simulasi yang memungkinkan pengujian efisiensi berbagai urutan yang berbeda.
e) Masalah routing (schedulling). Masalah routing timbul bila manajer harus memutuskan kapan bagian suatu pekerjaan dilaksanakan. Masalah ini yang kompleks dapat ditangani dengan programasi linear, model antrian, atau kombinasi keduanya.
f) Masalah penggantian. Banyak narang mahal organisasi akan menjadi usang atau tidak terpakai. Salah satu masalah bagi manajer adalah memutuskan secara tepat kapan barang tersebut harus diganti. Masalah ini biasanya dipecahkan melalui penggunaan programasi linear yang dapat menyarankan jadwal penggantian yang paling mudah.
g) Masalah persaingan. Masalah persaingan berkembang bila kedua atau lebih organisasi berusaha mencapai tujuan yang paling bertentangan.
h) Masalah pancairan. Kesalahan atau ketidaklengkapan informasi dapat mengakibatkan keputusan yang salah dan selanjutnya memerlukan waktu dan biaya untuk memperbaikinya. Alat untuk memecahkan masalah pencairan biasanya mengunakan statistik dikombinasikan dengan model programasi linear.




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Tujuannya adalah untuk menjelaskan paham pengambilan keputusan yang penting dan kemudian juga mengenai hubungan antara teori tersebut untuk merancang sistem informasi.
2. masalah atau problem yang dimaksud dapat dibagi dalam tiga golongan besar, yaitu masalah korektif, masalah progresif, dan masalah kreatif.
3. Proses dasar pembuatan keputusan rasional hampir sama dengan proses perencanaan strategis formal. Ini mencakup identifikasi dan diagnosa masalah, pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembangan alternatif, penilaian berbagai alternatif penyelesaian, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan, dan evaluasi terhadap hasil
4. Kriteria untuk pengambilan keputusan yang mengandung resiko adalah memaksimalkan nilai yang diharapkan.
5. Skala Pengukuran Pengambilan Keputusan skala nominal, skala ordinal, skala interval, skala ratio, skala absolut
6. Aplikasi Riset Operasi
a) Masalah persedian..
b) Masalah alokasi.
c) Masalah antrian.
d) Masalah pengurutan.
e) Masalah routing (schedulling).
f) Masalah penggantian.
g) Masalah persaingan.
h) Masalah pancairan.










Studi Kasus
Pada tanggal 17 Mei 2009 lalu kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim menyelenggarakan sebuah Pelatihan Investasi Saham Syariah (PINSA) dan Kompetisi Pasar Modal Online Se-UIN Malang. Even ini merupakan adopsi dari Kompetisi Nasional Pasar Modal yang diselenggarakan dalam tingkat nasional. Sistem yang dikembangkan adalah mengungkapkan system setingkat nasional yang dikemas dalam ruang lingkup UIN Malang.
Promosi yang digunakan adalah dengan menggunakan pamphlet maupun dengan menggunakan website PASARMODALMSAA.TK sebagai media informasi dan komunikasi dengan visitors. Situs ini di samping menyediakan informasi kepada visitors yang merupakan calon investor Pinsa pada Kompetisi Pasar Modal Online Se-UIN Malang, juga menyediakan kotak “Suara Anda” yang dapat digunakan oleh Pengunjung menyampaikan kesan, pesan, maupun pertanyaan secara singkat. Fasilitas yang merupakan layanan asli dari MYSHOUTBOX.COM ini cukup efektif untuk mewadahi beberapa pikiran, keinginan dari pengunjung selama kompetisi dan sesudahnya.
Untuk memfasilitasi layanan trading secara Online situs ini juga menggunakan email PASARMODALMSAA@GMAIL.COM yang digunakan oleh investor Pinsa maupun Pialangnya mentransaksikan modal virtual awal senilai seratus juta rupiah. Dan telah tercatat hingga penutupan lomba pada tanggal 5 Juni lalu telah tercatat seratus tujuh investor yang telah bertransaksi sejak dibuka tanggal 18 Mei lalu. Sedangkan untuk mengumumkan pemenang kompetisi pada tanggal 14 Juni nanti juga menggunakan situs ini.
Berkaitan dengan pengambilan keputusan PASARMODALMSAA.TK menyediakan daftar link Daftar Harga Saham yang dapat digunakan oleh investor Pinsa untuk memilih dan memutuskan harga saham yang layak untuk dibeli terkait dengan factor fundamental, teknikal, dan prospek harga saham pada period ke depan. Sedangkan dari sisi pialang juga dengan adanya link ini juga dapat digunakan untuk menyarankan, memutuskan, dan mengkonfirmasi investor atas transaksi yang mereka lakukan.


DAFTAR PUSTAKA

Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI


[1] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 130
[2] Ibid. Hal: 131
[3] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 130

[4] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 137

[5] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 145-148
[6] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 150-151
[7] Sutabri, Tata. 2005. Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: ANDI. Hal: 153-155

1 komentar: